Warteg Galau: Potret Perjuangan Kaum "Tersisih" PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 09 March 2013 04:39

Komhukum (Jakarta) - Perjuangan dalam meraih keadilan agar terbebas dari berbagai bentuk penindasan dan pemerasan merupakan kisah heroik yang patut dibanggakan. Dan kisah ini akan menjadi luar biasa bila hal itu datang dari "rakyat kecil" yang menolak untuk ditindas.

Fakta nyata perjuangan rakyat kecil ini kembali terwujud dalam perjuangan komunitas sosial warga Tegal yang menolak kebijakan pemerintah DKI Jakarta dalam memajaki "warung Tegal" (Warteg) yang telah bertahun-tahun turut memberi kontribusi bagi perkembangan ekonomi di negeri ini.

Semua liku-liku perjuangan ini membutuhkan stamina dan kesabaran dari jiwa-jiwa yang pada umumnya para pedagang kelas menengah ke bawah dan pelanggannya.

Kisah empiris perjuangan warga tegal ini dirangkum secara apik dalam buku berjudul "Warteg Galau: Perjuangan Rakyat Kecil Menolak Pajak Warteg," yang ditulis oleh Edy Budiyarso.

Menurut Edy, penulisan buku ini melewati berbagai kajian yang holistik dan ilmiah dengan berbagai fakta-fakta akurat mulai dari menjalin kebersamaan dengan para pedagang warteg, berdiskusi dengan para ahli-ahli serta membangun kekuatan dengan media massa. Sehingga tulisan ini adalah pengalaman empiris dari pedagang kelas menengah yang selama ini jauh dari perhatian pemerintah.

"Perjuangan warga Tegal dalam melawan Peraturan Daerah yang dinilai tidak adil ini adalah potret dari pedagang kelas menengah yang selama ini menjadi penggerak ekonomi rakyat kebanyakan namun jauh dari perhatian rakyat. Mereka ini butuh keberpihakkan untuk memperjuangkan hak mereka dalam aksi yang nyata bukan melalui retorika-retorika sempalan," tegas Edy saat berbincang-bincang dengan Komhukum.com di Gedung MNC, Jakarta, Rabu (21/02).

Edy yang pernah merasakan getirnya sebagai pedagang "Warteg", menulis buku ini dengan kronologis yang detail mengenai strategi dan taktik pergerakan komunitas Warung Tegal sehingga mereka pada akhirnya menjadi "Pemenang" dalam memperjuangkan haknya.

"Siapa yang menyangka bahwa Organisasi Warteg yang mungkin dipandang sebelah mata oleh para pengambil kebijaksanana, dapat mengalahkan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo  yang sangat kuat. Sehingga buku ini, bisa menjadi refrensi  dan perbandingan bagaimana perjuangan atas hak-hak rakyat  kecil bisa dilakukan," tulisnya.

Penulis buku "Warteg Galau" sendiri adalah putra kelahiran Tegal pada tahun 1975. Mantan wartawan majalah Tempo dari tahun 1998. Sejak tahun 2005 bergabung sebagai produser investigasi RCTI dan kini sebagai produser Eksekutif SINDO TV MNC Grup.

Beberapa buku telah dihasilkan oleh Edy yang pernah merasakan beratnya ikut berdagang warteg ini yakni," Menentang Tirani: gerakan Mahasiswa 77/78" diterbitkan Widiasarana, "Melawan Skenario Makar: Kisruh Polri di Balik Kejatuhan Presiden Gus Dur" diterbitkan Pena 234 jakarta. "Warteg Galau: Perjuangan Pedagang Kecil Menolak Pajak Warteg. (K-5/el)

 

Last Updated on Saturday, 09 March 2013 04:43
 
Tahun Ini Jakarta Akan Bangun 12 Pasar Lingkungan PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 09 March 2013 04:31

TEMPO.CO, Jakarta - Banyak anggapan bahwa pasar tradisional di Jakarta sudah mulai ditinggalkan warga Ibu Kota. Mereka pun beralih ke pasar modern seperti supermarket ata

upun minimarket yang tersebar di seluruh Jakarta. Perusahaan Daerah Pasar Jaya berupaya menghapus anggapan itu. Pada tahun ini, dari 153 pasar yang ditangani, 12 di antaranya akan dibangun kembali untuk dijadikan pasar lingkungan.

"Tahun ini 12 pasar yang akan dijadikan pasar lingkungan, sedangkan tahun depan 18 pasar lagi," ujar Direktur Keuangan dan Administrasi PD Pasar Jaya, Alexander Yerris, Selasa, 19 Februari 2013. Pasar itu masing-masing adalah dua pasar di Jakarta Barat, dua di Jakarta Pusat, dua di Jakarta Selatan, dua di Jakarta Timur, dan empat di Jakarta Utara.

Pasar lingkungan yang dimaksudnya adalah pasar yang sudah ada dan kemudian diperbaiki agar sesuai dengan misi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, untuk membentuk pasar tradisional yang rapi dan nyaman.

Last Updated on Saturday, 09 March 2013 04:37
Read more...
 
Beri Kesempatan Pedagang Kecil Maju PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 24 December 2008 16:28

Rizal Ramli(Warta FOPPI) Dr. Rizal Ramli, mantan Menteri Perekonomian di era Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid, menyebutkan keberadaan peritel besar yang sudah sampai ke pelosok-pelosok saat ini telah mengancam ‘periuk nasi’ pedagang kecil dan merupakan kebijakan yang salah kaprah.  Hal ini disampaikan Dr. Rizal Ramli kepada sejumlah wartawan saat bertemu dengan Pengurus Pusat Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia (FOPPI), di dermaga Pantai Mutiara, Jakarta Utara (20/12).

Last Updated on Thursday, 28 February 2013 16:05
Read more...
 
Sylvia Murni Ingin Satpol PP Tegas Tapi Tidak Kasar PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 09 March 2013 04:27
Metrotvnews.com, Jakarta: Sylviana Murni menyatakan siap jika memang terpilih menjadi Kasatpol PP DKI secara definitif.

Asisten Sekda bidang Pemerintahan DKI Jakarta itu menyerahkan sepenuhnya soal jabatannya kepada Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi).

"Itu memang kewenangan dan hak prerogatif gubernur," ujarnya, Jumat (22/2), usai dilantik sebagai Plt Kepala Satpol PP DKI Jakarta menggantikan Effendi Anas yang memasuki usia pensiun.

Mantan none Jakarta tersebut mengakui sebagai PNS siap untuk menjalankan tugas.
"Saya ini PNS, kalau PNS itu harus siap ditempatkan di mana saja. Saya hanya menjalankan amanah kepercayaan. Sebagai seorang muslim sami'na wa ato'na. Apa yang dikatakan pimpinan, yang penting saya bisa menjalankan amanah," jelasnya.
Last Updated on Saturday, 09 March 2013 04:39
Read more...
 
Selamat datang di website FOPPI PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 07 July 2007 09:54

Kaum pedagang, khususnya pedagang di pasar-pasar tradisional, merupakan tulang punggung perekonomian bangsa. Disaat para pengusaha yang menerima segala kemudahan dari penguasa melarikan uang Negara dan menempatkan Indonesia dalam krisis multidimensi, pedagang di pasar-pasar yang tidak pernah mendapatkan perhatian semestinya justru bertahan memperjuangkan eksistensi perekonomian bangsa.

Akan tetapi perngorbanan pedagang tersebut tidak juga membuat penguasa memperhatikan nasib mereka dan memberikan perlindungan yang memadai.  Saat kelompok usaha besar sudah sehat karena "disusui" pemerintah, mereka kini memangsa pedagang pasar dan pedagang kecil.  Kondisi inilah yang mendorong kaum pedagang untuk bersatu memperjuangkan hak dan nasib mereka sebagai bagian anak negeri, mewujudkan perekonomian bangsa yang bersemangat kerakyatan dalam wadah Federasi. 

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati perjuangan ini.

Last Updated on Wednesday, 24 December 2008 15:26
 
« StartPrev12NextEnd »

Page 1 of 2